GBC'

Masuknya Era 4.0 Mengubah Perilaku Konsumen Menjadi Compulsive Buying Disorder

Era globalisasi semakin pesat masuk ke Indonesia, hal ini ditandai dengan masuknya teknologi yang semakin canggih yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menjelaskan, berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0 Indonesia diperkirakan sebagai negara dengan potensi tinggi.

WINABEBAG'

Globalisasi  memang  identik  dengan  ekonomi  pasar  bebas  hingga  peleburan  dan pergeseran budaya yang merepresentasikan kenyatan yang saling terkait. Dengan kemajuan di berbagai  bidang  dalam era  globalisasi seolah  menjadi  salah  satu  alternatif  untuk menyatukan seluruh umat manusia dan menghilangkan segala perbedaan dalam masyarakat dunia. Namun, pada kenyataannya globalisasi seolah gagal dalam menyatukan masyarakat agar membentuk suatu solidaritas yang lebih besar. Meskipun jika dilihat secara sekilas menunjukkan bahwa globalisasi seolah telah berhasil menyatukan masyarakat dunia, namun kenyataannya hanyalah menciptakan manusia yang terpecah-pecah.  Jurang  pemecah  tersebut  semakin dalam  ketika  kapitalisme  global mulai berkembang  dengan pesat.  Kapitalisme global  ini sangat mempengaruhi  signifikansi kesenjangan  antara pemilik  modal  dengan kekayaan  yang berlimpah  dengan  buruh kasar. Sementara itu, globalisasi kebudayaan juga berkembang pesat seiring dengan perkembangan kapitalisme global.

Perkembangan  zaman  di  era  global  saat  ini  membawa  suatu  budaya  baru,  salah satunya adalah budaya konsumtif. Budaya ini adalah bagian dari perkembangan dan kemajuan dunia dalam khususnya  dalam menghadapi  kemiskinan.  Namun optimisme  tersebut seakan berbenturan  dengan  kenyataan  yang  terjadi.  Optimisme akan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang berlebihan tersebut sebagian besar seolah  berakhir  dengan  kesenjangan  lebih tinggi  antara masyarakat  dengan ekonomi  yang baik dengan mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri menghadapi persaingan kapitalisme global.  Perkembangan masyarakat konsumen ini  merupakan salah  satu hasil dari  fenomena global  tersebut. Gaya hidup  yang  berlebih-lebihan  semakin  dikuatkan  dengan  dukungan  berbagai  kemajuan teknologi, termasuk perkembangan pasar yang seolah dapat dengan mudahnya mengendalikan minat  masyarakat.

Kemudahan yang ditawarkan dalam belanja online membuat sistem perdagangan online (e-commerce) meningkat sangat pesat, kenyamanan berbelanja, menghemat waktu, bisa dilakukan kapan dan dimana saja, lebih leluasa dalam memilih dan membandingkan barang-barang yang akan dibeli, harga yang relatif lebih murah, dan sebagainya. Berdasarkan hasil survei belanja online yang dilakukan oleh Master Card pada bulan April 2012, total nilai transaksi perdagangan online di Indonesia pada tahun 2010 sebesar 3,4 Milliar USD, dan akhir tahun 2012 diperkirakan meningkat menjadi 4,2 Milliar USD.

Namun, berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Robert La Rose, ahli telekomunikasi yang berasal dari Department of Telecommunication Michigan State University, USA, kemudahan-kemudahan itu meningkatkan resiko penggemar belanja online menderita Compulsive Buying Disorder (CBD) dibandingkan dengan penggemar belanja “tradisional” (JCMC).

World Psychiatric Association mendefenisikan CBD sebagai kondisi psikologi kronik, hasrat yang berulang-ulang (kecanduan) untuk membeli barang atau jasa yang umum (apa saja) maupun yang spesifik misalnya perhiasan dan pakaian. Sesuatu yang membuat  masyarakat  ingin membeli  suatu objek  konsumsi bukan berdasarkan  fungsi  atau  esensi utama  dari  objek  tersebut,  melainkan  adanya  rasa  gengsi  yang  menyelimuti  motivasi pembelian  objek  konsumsi, mencari kepuasan, membeli di luar batas kemampuan, membeli barang tidak produktif.

Penderita CBD akan merasa tidak nyaman atau gelisah apabila tidak berbelanja dalam jangka waktu tertentu, timbulnya gangguan emosional, stres hingga depresi. Penggemar belanja online ini mengalaminya secara perlahan dan tanpa disadari, biasanya didahului oleh sifat konsumtif atau boros.

Perilaku CBD ini dapat terlihat dari meningkatnya pembelian yang secara terus menerus di media social (contoh : Instagram), website resmi (misalnya : Zalora), E-Commerce (Misalnya : Shopee, Tokopedia, Blibli.com, dsb).

Penulis : Olivia Ruth Natalia, S.Psi, mahasiswi MM.Tech President University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar