GBC'

Iklan Rokok Tanpa Rokok, Mengapa Bisa?

Iklan adalah salah satu sarana ataupun alat dalam strategi pemasaran suatu produk. Menurut Terence A. Shimp (2000), tujuan iklan tentu saja untuk memperkenalkan dan menarik perhatian konsumen untuk membeli dan memakai produk tersebut. Keberhasilan suatu iklan dapat dilihat dari meningkatnya persentase penjualan produk dari tahun ke tahun. Hasilnya, penjualan produk dapat meningkat dan memberikan kontribusi pada keuntungan perusahaan. Maka tidak heran jika banyak perusahaan yang sangat gencar membuat iklan tentang produk mereka. Televisi merupakan salah satu wadah yang efektif untuk mengiklankan suatu produk karena dapat menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Umumnya, produk yang diiklankan di TV menampilkan produk itu sendiri agar konsumen dapat mengenal ciri-ciri dan kegunaan dari produk tersebut. Tetapi di Indonesia, ada satu produk yang dimana produk itu sendiri tidak ditampilkan dalam iklannya. Ya, itu adalah rokok. Mungkin kita bertanya-tanya mengapa rokok tidak ditampilkan dalam iklannya sendiri.

WINABEBAG'

Ternyata, ada peraturan yang mengatur tentang pengiklanan produk rokok di media penyiaran. Peraturan yang dimaksud adalah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, dan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Isi dari UU dan PP ini memuat tentang pelarangan promosi rokok yang menampilkan produk rokok. PP Nomor 109 Tahun 2012 juga mengatur waktu penayangan iklan rokok melalui media penyiaran, yakni dari pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat. Dengan berbagai aturan yang membatasi pengiklanan rokok, lantas kita akan bertanya apa sebenarnya tujuan dari perusahaan-perusahaan rokok masih mengiklanan produk rokok di media penyiaran seperti TV.

John B. Watson berpendapat bahwa jika perusahaan ingin meningkatkan perhatian konsumen terhadap produknya maka perusahaan harus mengadakan periklanan secara terus-menerus. Ini juga bertujuan untuk mencegah kemungkinan orang lupa tentang produk mereka. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan perusahaan rokok masih terus mengiklankan produk mereka dengan segala aturan-aturan yang membatasi. Umumnya, iklan rokok diperankan oleh sekelompok anak muda yang sedang berpetualang, atau sosok bos eksekutif sukses, ataupun pria berotot yang maskulin. Biasanya, ikan rokok ini disertakan dengan take-line yang menarik, jantan, dan asik dengan intonasi yang kadang terngiang dalam memori kita, seperti “gak ada lo ga rame”, “cowok Umild”, ataupun “talk less, do more”. Dengan kombinasi visual dan audio iklan yang menarik yang ditampilkan terus-menerus, konsumen akan lebih mudah mengingat dan mengenal merk produk rokok tersebut. 

Statistik dari Kementrian Kesehatan mengungkapkan bahwa jumlah perokok di Indonesia terus meningkat, bahkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan persentase merokok pada anak yang berusia 10 hingga 18 tahun mencapai 9,1%. Ini membuktikan bahwa sekalipun iklan rokok tidak menampilkan produknya, peminat atau konsumen rokok tetap ada dan memiliki potensi untuk meningkat jumlahnya. Ini disebabkan karena kandungan nikotin dalam rokok menyebakan kecanduan, yang artinya sekali mencoba rokok maka ada kemungkinan mencobanya di kemudian hari. Ditambah lagi masyarakat luas sudah mengenal bentuk rokok itu sendiri. Jadi, iklan rokok di TV bertujuan untuk memperkenalkan produk mereka dengan tampilan menarik, jantan, dan asik agar konsumen sadar akan produk mereka dan juga mencoba produk tersebut agar merasa seperti pemeran iklan rokok yang menggambarkan kemaskulinan, kebebasan, dan juga kebersamaan tanpa menampilkan dan memeragakan produk rokok itu sendiri. Ini sejalan dengan tujuan pengiklanan rokok berdasarkan PP Nomor 109 Tahun 2012.

Penulis : Wira Wijaya Gea, Mahasiswa President University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar